Video adalah format konten paling banyak dikonsumsi di Indonesia, tapi juga paling melelahkan untuk diproduksi: riset, script, syuting, editing, caption. Kabar baiknya, hampir setiap tahap itu sekarang bisa dibantu AI. Artikel ini membahas cara membuat video dengan AI secara realistis — bukan janji "satu klik jadi video viral", melainkan workflow yang benar-benar dipakai kreator: AI untuk script dan perencanaan, tool video generator untuk visual, dan kamu tetap pegang kendali kreatif.
Dua Jalur Membuat Video dengan AI
Ada dua pendekatan yang perlu kamu bedakan. Pertama, AI-assisted: kamu tetap merekam atau memakai footage sendiri, tapi AI membantu script, hook, struktur, caption, dan editing. Kedua, AI-generated: visual videonya sendiri dibuat oleh AI dari teks atau gambar. Untuk konten TikTok dan YouTube harian, jalur pertama biasanya lebih praktis dan hasilnya lebih natural. Jalur kedua cocok untuk b-roll, video konsep, iklan pendek, atau konten faceless.
Tahap Paling Penting: Script — dan Ini Wilayahnya Claude
Video yang menang di TikTok dan YouTube hampir selalu menang di script: hook 3 detik pertama, alur yang menahan penonton, dan CTA yang jelas. Claude sangat kuat di sini karena bisa memahami konteks panjang dan menulis dengan struktur rapi. Contoh prompt yang bisa langsung dipakai: "Buatkan script video TikTok 45 detik tentang [topik]. Format: hook 3 detik yang bikin penasaran, 3 poin utama dengan bahasa santai anak muda, tutup dengan CTA follow. Sertakan petunjuk visual per baris." Untuk teknik hook dan ide konten yang lebih dalam, baca cara bikin konten TikTok dengan AI.
Pilihan Tool Video Generator
Untuk visual yang sepenuhnya dibuat AI, beberapa nama yang umum dipakai per Agustus 2026 (fitur dan harga berubah cepat — cek situs resminya):
• Sora dari OpenAI, generator text-to-video dengan hasil realistis.
• Runway, populer di kalangan kreator untuk video pendek dan efek.
• Kling dan Hailuo, alternatif yang banyak dipakai untuk klip pendek.
• Google Veo, terintegrasi dengan ekosistem Google.
Untuk video berbasis avatar dan voice-over (misalnya konten edukasi faceless), ada HeyGen dan sejenisnya. Sementara CapCut tetap jadi andalan editing dengan fitur AI seperti auto-caption dan remove background.
Workflow Konten TikTok: Dari Ide Sampai Upload
Alur yang efisien untuk konten pendek:
• Riset dan ide: minta Claude membuat 10 ide video dari satu topik, lengkap dengan angle yang berbeda.
• Script: pilih 3 ide terbaik, minta Claude tuliskan script per detik.
• Produksi: rekam sendiri dengan HP, atau generate b-roll dengan tool video AI.
• Editing: potong di CapCut, tambahkan auto-caption.
• Caption dan hashtag: minta Claude buatkan 3 variasi caption dengan gaya berbeda.
Dengan alur ini, satu sesi kerja bisa menghasilkan beberapa video sekaligus karena bagian berpikirnya sudah dikerjakan di awal.
Workflow Konten YouTube: Video Panjang
Untuk YouTube, peran AI bergeser ke perencanaan dan struktur. Minta Claude membuat outline video 8-10 menit dengan struktur retensi: hook pembuka, preview isi, segmen-segmen dengan transisi, dan penutup yang mengarahkan ke video lain. Claude juga bisa menulis deskripsi video yang SEO-friendly, membuat timestamp, dan mengubah satu script YouTube menjadi beberapa script Shorts — satu bahan jadi banyak konten. Kalau kamu masih menimbang asisten AI mana yang paling pas untuk kebutuhan menulis seperti ini, lihat perbandingannya di Claude vs ChatGPT untuk pengguna Indonesia.
Contoh Prompt Video Generator
Sama seperti gambar AI, hasil video generator sangat bergantung pada prompt. Gunakan Claude untuk menyusunnya. Contoh: kamu tulis ke Claude "Aku butuh b-roll 5 detik suasana kedai kopi pagi hari untuk video promosi, tone hangat". Claude bisa mengubahnya jadi prompt bahasa Inggris yang terstruktur: "Cinematic close-up shot inside a cozy coffee shop in the morning, steam rising from a cup, warm sunlight through window, shallow depth of field, slow camera push-in, 5 seconds". Detail seperti pergerakan kamera dan pencahayaan inilah yang membedakan hasil biasa dan hasil bagus.
Hal yang Sering Bikin Gagal
Beberapa jebakan umum: mengandalkan AI 100% tanpa sentuhan personal sehingga konten terasa generik, memakai voice-over AI yang kaku tanpa penyesuaian, dan mengunggah video AI-generated tanpa memeriksa detail aneh (tangan, teks, logo). Platform juga mulai mewajibkan label untuk konten hasil AI di beberapa kondisi — ikuti ketentuan masing-masing platform. Posisikan AI sebagai tim produksi, bukan pengganti identitasmu sebagai kreator.
Estimasi Biaya yang Realistis
Tool video generator umumnya berbayar dengan sistem kredit, dan biayanya bisa cepat membengkak kalau banyak trial-and-error. Cara menghematnya justru di tahap script dan prompt: makin matang perencanaan, makin sedikit generate ulang. Karena itu banyak kreator memprioritaskan langganan asisten AI untuk berpikir dan menulis, lalu memakai tool video seperlunya saja.
Mulai dari Script Dulu
Kalau baru mulai, jangan langsung beli semua tool. Mulai dari yang dampaknya paling besar: script dan perencanaan konten dengan Claude, produksi dengan HP dan CapCut, lalu tambahkan video generator ketika kebutuhan visualmu berkembang. Untuk akses Claude yang ramah kantong, ada patungan Claude di Akunpy mulai Rp 25rb per minggu tanpa kartu kredit — cocok buat kreator yang mau konsisten produksi tanpa biaya langganan penuh. Info lengkap layanannya ada di halaman Claude.